RK News - Lebong, Bengkulu – Di tengah ancaman krisis energi dan tekanan terhadap kelestarian hutan, LSM Talago Batuah Cabang Lebong hadir dengan sebuah gagasan kreatif: menjadikan kompensasi hutan hasil carbon trade sebagai sumber utama pembangunan energi hijau dan pemberdayaan masyarakat. Bagi mereka, carbon trade bukan sekadar transaksi di pasar internasional, melainkan sebuah jalan perjuangan yang akan mengembalikan nilai hutan kepada masyarakat.
Setiap kredit karbon yang dihasilkan dari hutan Gunung Seblat akan dikonversi menjadi manfaat nyata. Rencana itu mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga air mini yang memanfaatkan aliran sungai dan air terjun, serta pemasangan panel surya untuk desa‑desa di sekitar hutan. Tidak berhenti di sana, Talago Batuah juga menyiapkan koperasi energi hijau, pengembangan agroforestri, dan usaha kecil berbasis hasil hutan non‑kayu sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi lokal. Semua ini akan diperkuat dengan insentif finansial dan dukungan usaha bagi masyarakat yang menjaga hutan, sehingga mereka merasakan langsung keuntungan dari peran penting menjaga ekosistem.
“Carbon trade bukan sekadar angka. Semua program energi alternatif dan pemberdayaan masyarakat yang kami rencanakan bersumber dari kompensasi hutan. Artinya, setiap kredit karbon yang dihasilkan dari hutan Gunung Seblat akan kembali ke masyarakat dalam bentuk listrik alternatif, usaha hijau, dan insentif penjagaan hutan,” tegas Yogie, pengurus cabang Lebong.
Dengan skema ini, LSM Talago Batuah percaya bahwa hutan akan tetap terjaga karena masyarakat memperoleh manfaat langsung dari menjaga daerah aliran sungai dan ekosistem. Energi hijau akan tumbuh sebagai listrik alternatif desa, sementara usaha kecil berbasis hasil hutan akan memperkuat ekonomi lokal. Kredit karbon yang diakui pasar internasional pun membuka peluang investasi hijau, menjadikan Lebong bagian dari gerakan global menuju pembangunan berkelanjutan.
Meski semua ini masih berupa rencana yang sedang diperjuangkan, pengurus cabang Lebong optimistis. Tantangan seperti verifikasi kredit karbon sesuai standar internasional dan distribusi manfaat yang adil memang ada, tetapi dengan kewenangan penuh, semangat Milenial dan Gen Z, serta kompensasi hutan yang jelas, perdagangan karbon akan menjadi tonggak baru pembangunan berkelanjutan di Lebong sekaligus langkah nyata menuju pengakuan internasional. (NN)







Tidak ada komentar:
Write komentar